Kamis, 16 November 2017

Cerita Rakyat Batak



Hai sobat!!
Artikel kali ini masih tentang cerita rakyat dari Sumatra Utara.Mengenai Tungkot Tunggal Panaluan dari adat batak.Tungkot Tunggal Panaluan adalah salah satu seni dari suku Batak yang sudah terkenal diseluruh dunia, yang diukir menurut kejadian sebenarnya dari kayu tertentu yang juga memiliki kesaktian.

TUNGKOT TUNGGAL PANALUAN

Zaman dahulu di kampung  Sidogordogor Pangururan tinggallah keluarga yang sudah lama tidak mempunyai keturunan 7 tahun lamanya, Guru Hatahutan dan istrinya Nasindak Panaluan. Akhirnya keluarga ini dikaruniai keturunan setelah selama 7 tahun penantian berdoa kepada Ompu Mula Jadi Na Bolon. Setelah 13 bulan lamanya mengandung lahirlah anak dari mereka Linduak/kembar laki-laki dan perempuan. Kemudian diadakanlah pesta Martutu Aek/acara memberi nama kepada kedua anak itu yang saat itu upacara atau pesta ini dipimpin oleh Agama Parbaringin. Setelah diadakan ritual untuk dalam acara Martutu Aek tersebut, dinamailah anak laki-laki Aji Donda Hatautan dan anak perempuan itu Siboru Tapi Nauasan. Penatua Huta atau tokoh masyarakat menganjurkan kedua anak tersebut agar dipisahkan agar dikemudian hari tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. 

Hari, minggu dan tahunpun berlalu anak itupun tumbuh dewasa. Tanpa disadari oleh kedua orangtuanya kedua anak itupun timbul rasa saling mencintai dan sangat akrab sekali dan selalu bersama-sama kemanapun mereka pergi. Suatu ketika mereka pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar bersama seekor anjing. Dikesunyian ditengah hutan tersebut tumbuhlah rasa cinta yang semakin bergejolak diantara mereka yang akhirnyapun mereka melakukan hubungan seksual. Setelah itu Siboru Tapi Nausan melihat buah  dari pohon Si Tua Manggule dan meminta saudara kembarnya Si Aji Donda Hatautan agar mereka makan buah tersebut.. Si Aji Donda Hatautan memanjat pohon itu dan memakan buahnya, tiba-tiba saat itupun  ia melekat pada pohon itu dan tidak bisa bergerak,kemudian Siboru Tapi Nausanpun ikut memanjat pohon tersebut dan memkan buahnya, akhirnya keduapun lengket dipohon tersebut. Merekapun berusaha untuk melepaskan diri dari pohon tersebut namun sia-sia. Anjing yang ikut bersama merekapun pulang ke kampung untuk memberitahukan kejadian tersebut.

Akhirnya datanglah orangtuanya bersama dengan Datu/orang sakti untuk melepaskan mereka dari pohon tersebut. Guru Guta Balian bersama empat orang Datu yang lain merusaha untuk melepaskan anak kembar itu dari pohon itu, namun usaha merekapun sia-sia. Merekapun ikut melekat pada pohon Piupiu Tunggale tersebut dan meninggal pada pohon itu. Atas kejadian tersebut diukirlah patung tongkat untuk mengenang kejadian ini, inilah urutan yang melekat pada pohon tersebut pada ukiran Tongkat Tunggal Panaluan itu, Si Aji Donda Hatautan, Siboru Tapi Nauasan, Datu Pulu Panjang Na Uli, Si Parjambulan Namelbuselbus, Guru Mangantar Porang, Si Sanggar Meoleol, Si Upar Manggalele, Barit Songkar Pangururan.

                                                     

Teman-teman moral yang dapat kita petik adalah kita harus menuruti perkataan orang tua kita agar tidak celaka.

0 komentar:

Posting Komentar